sekedar gambaran aja

Sindiran khas dari si Beny & Mice bagi kita semua…. itu bagi yang merasa kesindir aja. Kalo gak…. ya kebangetan !! :D

Comments 14 Komentar »

Bila suatu ketika anda merasa ingin buang air besar (besar…? air bah kaleee) dan ditempat itu yang ada hanya sebuah kakus ato wc kotor nan bau, maka dengan terpaksa (padahal dengan suka rela :D ) anda akan tetap masuk dan buang hajat disitu. Jorok, jijik dan bau yang gak ketulungan akan anda rasakan untuk detik-detik ato menit-menit pertama, setelah beberapa lama kemudian anda akan mulai terkondisi dengan keadaan seperti itu, mulai bisa menyesuaikan diri. Inilah kira-kira gambaran efek kakus.

Dalam keseharian, efek kakus banyak terjadi di sekitar kita baik yang itu kita sadari betul ataupun yang tidak kita sadari. Tahun 80 - 90an, jika ada kasus anak gadis hamil diluar nikah maka hal tersebut akan menimbulkan kegemparan di keluarga yang bersangkutan maupun pada masyarakat sekitarnya. Namun mulai tahun 2000an, kasus anak gadis hamil diluar nikah sudah menjadi hal yang biasa aja. Hal ini terjadi karena semakin banyak terjadi kasus yang demikian sehingga masyarakat kita sudah mulai bisa “menerima”.

Sekitar tahun 2000an, kita sempat digemparkan oleh kasus video porno lokal “Bandung Lautan Asmara”. Kehebohan luar biasa terjadi pada saat itu, namun sekarang ?? Sekarang video porno lokal buatan anak bangsa dengan sangat mudah kita jumpai, baik itu “pemeran utamanya” yang anak SMP, SMA, Mahasiswa sampai orang dewasa bahkan dari kalangan pejabatpun ada.

Lambat laun kita sudah mulai bisa menyesuaikan diri terhadap “bau kakus” yang terjadi disekitar kita. Efeknya hanya kita rasakan pada saat awal-awalnya saja, setelah lama berada di dalam “kakus” maka kita akan mulai bisa menerimanya.

Begitu pula dengan tampilan Blogdetik yang baru ini… awalnya saya sempet bingung tapi lama kelamaan terbiasa juga, orang jawa bilang “pakulinan” :D

Comments 44 Komentar »

Jika kita disodori pertanyaan “buat apa kamu bekerja ?”, pasti beragam jawaban akan muncul, mulai dari untuk bertahan hidup, menafkahi keluarga, mencari bekal untuk masa depan dan masih banyak lagi. Dan itu sah-sah aja selama pekerjaan yang kita lakukan itu benar dan baik sesuai dengan norma agama dan norma sosial bermasyarakat serta bernegara.

Setiap kita yang bekerja pasti akan menerima “pendapatan/pemasukan” meski tidak harus selalu dalam bentuk materi. Pendapatan/pemasukan dari hasil kerja dan jerih payah tersebut tentunya akan kita keluarkan lagi untuk sekedar “bertahan hidup” sampai untuk “bergaya hidup”. Intinya setiap kita menerima uang dari hasil kerja maka akan ada pos untuk pengeluaran, dan itu sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Namun dibalik “penerimaan dan pengeluaran” tersebut hendaknya dipertimbangkan berdasar nilai kemuliaan. Yakni, bagaimana kita mencari uang, bagaimana proses kita mendapatkan uang serta kepada siapa uang tersebut kita belanjakan atau kita berikan. Dan proses tersebut tentu akan menjadi nilai yang lebih tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.

Seorang suami membelajakan uangnya untuk kebutuhan keluarga tentu akan bernilai mulia daripada untuk membayar jasa seorang pramunikmat. Membeli kacang rebus dari seorang pedagang keliling tentu akan lebih mulia menurut saya dari sekedar memberi “sedekah” kepada pengemis dan peminta-minta. Penjual kacang rebus yang bekerja sampai larut malam berkeliling masuk – keluar gang untuk memperoleh Rp.20.000 – Rp.40.000 setiap harinya. Bukankah penjual kacang rebus tersebut lebih mulai dari orang yang sekedar menengadahkan tangan ?? Bahkan lebih mulia dari seorang pejabat yang berpendidikan tinggi namun korupsi. Bukankan penjual kacang tersebut menjual “kemuliaan” dan tentu kita yang membelinya adalah membeli kemuliaan ??

Jika ingin memperoleh kemuliaan, maka perhitungkanlah pemasukan dan pengeluaran kita berdasarkan kemuliaan.

Comments 935 Komentar »