Berbagi & Menghargai

20 Aug 2008

Beberapa hari yang lalu, Pak Tua penjual kue itu mampir lagi ketempatku untuk menawarkan dagangannya. Kue isi kacang yang boleh dikata biasa-biasa ajah. Pagi itu aku membeli 2 bungkus, 1 bungkusnya berisi 5 kue. Konon katanya kue itu merupakan usaha keluarganya dan dipasarkan sendiri secara door to door dengan berjalan kaki. Dari rumah pak tua penjual kue itu sampai ke ketempatku ya kira-kira sejauh 10km, dan itupun masih berjalan lagi sampai dagangannya ludes terjual.

Pernah suatu hari pak tua penjual kue itu datang ketempatku, tapi saat itu aku sudah siap-siap mo pergi karena ada kerabat yang meninggal. Singkat cerita, karena terburu-buru hari itu aku tidak membeli kue pak tua. Dengan tetap tersenyum pak tua pun pamit mo melanjutkan jualannya. Dan ketika pulang dari melayat, ditengah perjalanan aku melihat pak tua itu masih berjalan menawarkannya kue dagangannya. Sedih dan menyesal, mengapa tadi aku tidak membeli kuenya , gumamku.

Bukan soal kue-nya yang aku sesali, namun aku khilaf tidak menghargai jerih payah pak tua penjual kue tadi. Hanya dengan sedikit penghargaan dari kita itulah yang bisa membuat kehidupan keluarga pak tua itu tetap berjalan. Kalo dipikir, mungkin kita tidak terlalu membutuhkan banget barang dagangan semacam kue pak tua itu tadi. Tapi semangat berbagi dan menghargai itulah yang lebih penting dari sekedar kue isi kacang tersebut.

Terus terang aku lebih respek terhadap orang-orang seperti pak tua penjual kue tadi, daripada para peminta sumbangan yang sering mengatasnamakan yayasan sosial atopun yayasan agama. Jujur saja, aku memang tidak selalu membeli barang dagangan yang dijual secara door to door atopun dari para pedangan asongan. Biasanya aku lebih menggunakan naluriku untuk membeli ato tidak dan tentu saja dengan pertimbangan lainnya (termasuk pas lagi punya uang cukup apa tidak, he he he :D )


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive