Beramal Tidak Harus Menunggu Kaya

19 Sep 2008

Pagi ini sempat baca sebuah kisah menarik di sebuah surat kabar harian nasional, tentang seorang wanita kuat dan mulia yang bisa menjadi contoh bagi yang lain. Sumirah, seorang tukang pijat yang mampu membangun madrasah, masjid, mushala dan mengurus anak yatim. Dengan niat mulia, Sumirah mencoba mengabdikan dirinya untuk kemashlahatan umat meski harus bekerja keras. Selain menjadi pemijat Sumirah juga menjadi tukang sol sepatu, penjahit dan buruh pabrik.

Sejak kecil Sumirah memang sudah dididik orang tuanya untuk mensyukuri nikmat yang didapat dengan cara bersedekah. Nasehat itu pula yang dipegang Sumirah hingga saat ini, bahwa dari hartanya itu ada bagian untuk fakir miskin, yatim piatu dan untuk kemashlahatan umat lainnya. Contoh dan tindakan nyata dari seorang rakyat kecil bernama Sumirah yang memposisikannya lebih mulia dari kumpulan-kumpulan orang cerdik pandai di negeri ini yang hanya suka mencela dan menyalahkan orang lain saja. Ada sebuah pesan moral yang sempat disampaikan Sumirah ketika diwawancarai, “Pergunakan mata hati, banyak orang pintar yang belum tentu mengerti”

Sumirah, secara materi mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan pengusaha sukses di negeri ini. Tapi kekayaan hatinyalah yang mungkin hanya dimiliki sedikit orang dari 200juta penduduk bangsa ini. Sumirah memberi kita contoh bagaimana menjadi orang yang bisa bermanfaat bagi orang lain, Migunani Tumraping Liyan. Menjadi orang yang berguna bagi orang lain tidak harus menjadi kaya dulu. Setiap saat kita bisa berguna dan bermanfaat bagi orang lain, asal kita ada keikhlasan hati untuk beramal. Beramal tidak harus dengan materi dan beramal tidak harus menunggu kaya.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive