Intim dengan Maut

14 Oct 2008

Kemarin malem aku sempet telphon sama salah satu temen yang tinggal di kampung (tapi gak pake “nan jauh di mato”). Awalnya sih ngobrol ngalor ngidul, tentang gosip yang sedang lagi hot-hotnya di kampungku. Ya, gitu… kalo sudah membicarakan orang lain seakan lupa pada keaslian diri sendiri yang juga penuh kekurangan dan kelemahan. Tapi malem itu bukan melulu gosip, melainkan juga diselingi obrolan tentang makna dari sebuah pernikahan, berhubung gosip yang diobrolin adalah rencana pernikahan temenku yang lain.

Hingga tiba suatu ketika sebuah obrolan via telphon yang riuh rendah mendadak menjadi rada hening. Temenku mengabari kalo mBah Sastro, tetanggaku, dah “bobrok” gak bisa apa-apa lagi. Memang kemarin sebelum Ramadhan mBah sastro pernah opname beberapa minggu di rumah sakit. Trus menjelang lebaran sudah berangsur pulih. Tapi beberapa hari yang lalu, mBah Sastro kembali tergolek tak berdaya di atas pembaringannya. “Namanya juga sudah tua…. penyakit tua”, kataku menimpali kabar dari temenku tersebut.

Paginya, sekitar jam 08.00 waktu Indonesia Bagian saya berada saya dapat telphon dari rumah. Ibu ngasih kabar kalo mBah Sastro telah meninggal dunia. “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun”, kataku dalam hati. “Barusan tadi malam aku ngomongin tentang mBah Sastro, paginya maut dah menjeputnya”, pikirku. Bergegas aku segera pulang ke kampung halaman, padahal rencananya aku baru mo pulang ntar di akhir pekan… pas di nikahan temenku yang jadi bahan gosip tadi.

Ternyata memang maut sangat dekat dengan kita, hanya sayangnya kita sering dan sudah terbiasa lupa akan mati. Sering terlintas di otak kita bahwa kematian hanya identik dengan orang tua. Sehingga tak mengherankan, kita-kita yang tergolong masih muda suka menyepelekan masalah kematian ini. Padahal maut dekat dengan siapa saja, sangat intim dengan setiap yang bernafas. Anehnya, kita ingat akan mati kalo pas ada hal-hal seperti yang menimpa mBah Sastro tadi, pulang dari takziah/melayat…. kita sudah kembali lupa, kembali disibukkan dengan urusan duniawi kita.

“Setiap yang bernafas pasti akan mati”


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive