Berbelanja Kemuliaan

27 Jan 2009

Jika kita disodori pertanyaan buat apa kamu bekerja ?, pasti beragam jawaban akan muncul, mulai dari untuk bertahan hidup, menafkahi keluarga, mencari bekal untuk masa depan dan masih banyak lagi. Dan itu sah-sah aja selama pekerjaan yang kita lakukan itu benar dan baik sesuai dengan norma agama dan norma sosial bermasyarakat serta bernegara.

Setiap kita yang bekerja pasti akan menerima pendapatan/pemasukan meski tidak harus selalu dalam bentuk materi. Pendapatan/pemasukan dari hasil kerja dan jerih payah tersebut tentunya akan kita keluarkan lagi untuk sekedar bertahan hidup sampai untuk bergaya hidup. Intinya setiap kita menerima uang dari hasil kerja maka akan ada pos untuk pengeluaran, dan itu sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Namun dibalik penerimaan dan pengeluaran tersebut hendaknya dipertimbangkan berdasar nilai kemuliaan. Yakni, bagaimana kita mencari uang, bagaimana proses kita mendapatkan uang serta kepada siapa uang tersebut kita belanjakan atau kita berikan. Dan proses tersebut tentu akan menjadi nilai yang lebih tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.

Seorang suami membelajakan uangnya untuk kebutuhan keluarga tentu akan bernilai mulia daripada untuk membayar jasa seorang pramunikmat. Membeli kacang rebus dari seorang pedagang keliling tentu akan lebih mulia menurut saya dari sekedar memberi sedekah kepada pengemis dan peminta-minta. Penjual kacang rebus yang bekerja sampai larut malam berkeliling masuk keluar gang untuk memperoleh Rp.20.000 Rp.40.000 setiap harinya. Bukankah penjual kacang rebus tersebut lebih mulai dari orang yang sekedar menengadahkan tangan ?? Bahkan lebih mulia dari seorang pejabat yang berpendidikan tinggi namun korupsi. Bukankan penjual kacang tersebut menjual kemuliaan dan tentu kita yang membelinya adalah membeli kemuliaan ??

Jika ingin memperoleh kemuliaan, maka perhitungkanlah pemasukan dan pengeluaran kita berdasarkan kemuliaan.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post


Categories

Archive